Diberdayakan oleh Blogger.
RSS



Konsep dan Realitas Politik Perluasan Wilayah Madinah

Sebelum Rasulullah meninggal, beliau tidak menunjuk penggantinya sebagai pemimpin umat Islam sehingga setelah beliau wafat sempat terjadi kekosongan kekuasaan. Para sahabat merasa bahwa mereka sangat membutuhkan pemilihan seorang khalifah yang akan mengatur masalah-masalah dan urusan-urusan mereka di Madinah, sebab jika tidak maka Madinah akan berada dalam ancaman.

Dalam pemilihan khalifah terjadi perdebatan yang cukup panjang antara orang-orang Anshar dengan orang-orang Muhajirin, dan pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar menjadi khalifah pertama yang dibaiat oleh Umar dan disusul kemudian oleh semua orang yang hadir di Saqifah. Pada hari berikutnya semua penduduk membaiatnya secara umum.

Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Di zaman pra Islam beliau bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah. Beliau termasuk salah seorang sahabat yang utama, gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa terutama Isra’ dan Mi’raj.

Pada awal pemerintahannya Abu Bakar berhadapan dengan kelompok pemberontak yang dikenal dengan kaum murtad. Setelah Rasulullah wafat, seluruh Jazirah Arab murtad dari agama Islam kecuali Mekkah, Madinah, Thaif. Sebagian orang murtad ini kembali kepada kekufuran lamanya dan mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, sebagian yang lain hanya tidak mau membayar zakat.

Berkenaan dengan orang-orang yang mengklaim kenabian, beberapa pemikiran individu atau suku yang ambisius, bahwa mereka juga bisa menjadi pemimpin dengan jalan mengklaim kenabian karena dalam pandangan mereka Nabi Muhammad SAW. dapat menempati posisi sebagai pemimpin umat berkat kenabiannya olehnya itu mereka bercermin pada Rasulullah untuk mencapai ambisi kekuasaan yang mereka inginkan. Hal ini disebabkan karena pemahaman mereka terhadap Islam masih sangat dangkal wajar saja karena mereka tidak lama hidup berdampingan dengan Nabi.

Selain kelompok yang mengklaim kenabian, beberapa suku juga menjadi murtad. Tidak diragukan lagi bahwa situasinya memang mendukung untuk terjadinya kemurtadan, tetapi tidak jelas siapa yang benar-benar murtad dan siapa yang tidak menerima pemerintahan Madina yang semata-mata karena alasan politik. Golongan yang benar-benar mutad menganggap bahwa mereka tidak wajib lagi membayar zakat karena Nabi telah wafat sehingga perjanjian yang mengikat mereka juga telah batal dengan sendirinya. Sedangkan golongan yang tidak mau membayar zakat karena mereka tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah juga dianggap murtad oleh Abu Bakar.

pada masa pra-Islam terdapat dua kekuatan peradaban dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan peradaban Persia, dua kerajaan ini kemudian menjadi tetangga Arab yakni tempat lahirnya Islam. Dua kekuatan besar tersebut merupakan dua super power dunia dan sekaligus merupakan adikuasa dunia pada masa itu. Tetapi kedua kerajaan ini sering sekali terlibat perang karena perebutan daerah kekuasaan. Akibatnya kedua kerajaan ini mulai melemah sekitar abad ke 7 M, selain itu konflik internal yang terjadi pada kedua kerajaan tersebut juga berpengaruh besar pada kemunduran kerajaan ini.

Khalifah Abu Bakar selain menyelesaikan masalah kemurtadan yang terjadi pada umat Islam, beliau juga berfokus pada keinginan Nabi yang belum sempat terealisasikan yakni mengirimkan ekspedisi ke Syam dibawah pimpinan Usamah, wilayah Syam saat itu berada dibawah dominasi kekaisaran Romawi Timur. Sebagian sahabat menentang keras rencana ini, tetapi khalifah tidak peduli. Nyatanya ekspedisi itu sukses dan membawa pengaruh positif bagi umat Islam, khususnya dalam membangkitkan kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar. Dengan bangkinya kembali semangat umat Islam Abu Bakar pun menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kebeberapa wilayah untuk menyebarkan Agama Islam dan sekaligus memperluas daerah kekuasaan Islam.

Saat kedua super power dunia ini mulai melemah, sedangkan saat itu kekuatan Islam semakin kuat. Ekpedisi militer pertama ke Persia pun dilaksanakan yang di pimpin oleh Khalid bin Walid. Serangan ini merupakan rangkaian dari tugas yang diterima Khalid bin Walid dalam menumpas kemurtadan. Tindakan itu dilakukan sebagai reaksi terhadap terjadinya kerjasama antara penguasa kerajaan Persia dengan kaum murtad. Sajjah, anak perempuan Harits Tamimi merupakan suku Arab Tamimi yang mengklaim dirinya sebagai nabi merupakan suruhan dari penguasa Persia. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Sajjah bergabung dengan Musailamah yang juga mengklaim dirinya sebagai nabi. Dalam Al-Futuh kita membaca bahwa ketika berjumpa dengan Musailamah, Sajjah berkata, “aku mendengar tentang karaktermu yang luar biasa dan aku memilihmu. Aku telah datang untuk menjadi istrimu sehingga kita berdua bisa menjadi nabi dan bersama-sama membuat dunia taat kepada kita dan menjadi pelayan kita”. Musailamah pun menjawab, “sebagai mahar perkawinanmu, aku bebaskan bangsamu dari shalat fajar dan petang”.

Ketika pasukan umat Islam berhadapan dengan pasukan Musailamah terjadilah perang berdarah dimana pasukan muslim kehilangan banyak tentaranya. Ibnu A’tsam menyebutkan jumlah umat Islam yang syahid sebanyak 1200 orang, 700 orang diantaranya adalah penghafal Al-Quran. Walau demikian umat Islam memenangkan peperangan ini dan Yamamah jatuh ketangan umat Islam.

Setelah menumpas kaum pembangkan di Yamamah, Khalid kembali mendapat tugas untuk memimpin ekspedisi ke Irak. Sebelum kedatangan Islam, di Irak berdiri kerajaan Lakhmiyah. Raja-raja Lakhmiyah kebanyakan menyembah berhala, tetapi karena terpengaruh oleh budaya Zoroastrian dari budaya timur dan kristen dari barat sehingga mereka lebih cenderung ke salah satunya. Yang pasti adalah bahwa Nu’man III dari dinasti ini adalah penganut kristen. Kristen Nestorian merupakan agama mayoritas di Irak dan Iran Barat. Raja-raja Sasania telah mendukung sekte ini kerena pemerintahan byzantium tengah memeranginya dan mempertahankan sekte kristen ini secara politis. Dinasti Lakhmiyah merupakn tangan kanan dinasti Sasaniah di Iran. Campur tangan Iran diwilayah ini amatlah besar sampai pada suatu tahap tertentu Khusrau Parviz memerintahkan Nu’man III, raja terakhir dinasti Lakhmiyah untuk tahta. Setelah itu pemerintahan Iran menggantinya dengan penganut kristen setempat yang bernama Iyas bin Qubaisyah untuk memerintah Hira. Tidak beberapa berselang, datanglah pasukan Islam menyerang kota terpenting di Irak yakni Hira dan berhasil menaklukkannya. Setelah penaklukan Hira Khalid bermaksud melanjutkan penyerangannya daerah-daerah sekitar Hira tetapi setelah pasukan Madinah berperang di Syria melawan pasukan Byzantium mengalami kesulitan, maka atas perintah khalifah Abu Bakar, Khalid bersama separuh pasukan lainnya tetap tinggal di Irak dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin panglima Musasanna.

Belum sempat Irak dikuasai sepenuhnya oleh Islam, khalifah Abu Bakar meninggal yang kemudian digantikan oleh khalifah Umar bin Khatab. proses penunjukan Umar ini dilakukan langsung oleh Abu Bakar. Sebelum beliau meninggal, ia sempat berwasiat mengenai pengganti dirinya sebagai khalifah dan Umar lah yang dipilih oleh beliau.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar, ia melanjutkan perluasan wilayah yang telah di mulai oleh khalifah Abu bakar. Saat perdana mentri kerajaan Sasania, Rustam memimpin pasukannya menghadapi pasukan Madinah. Menghadapi pasukan Rustam, khalifah Umar mengirim bantuan dibawah komando panglima Abu Ubaid al Saqafi untuk membantu pasukan Musasanna yang sudah ada di Irak. dalam pertempuran Furat pasukan madinah mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, sebagian pasukan Islam enggan lagi berangkat ke Irak bahkan mereka lebih memilih pergi berperang melawan Byzantium di Syiria. Menghadapi hal itu, khalifah Umar memperkuat pasukan Islam dengan merekrut orang-orang murtad untuk bergabung dengan pasukan yang di pimpin oleh Musasanna. Selain itu, kepada pasukan yang di pimpin Jarir bin Abdullah al-Bajali yang bertempur dalam barisan pasukan Musasanna, khalifah menjanjikan imbalan harta Fa’I (rampasan tanah). Umar sendiri saat itu ingin berangkat berperang namun karena pertimbangan para sahabat beliau membatalkan niatnya. Panglima Sa’ad bin Abi Waqqas yang dipercaya untuk memimpin pasukan bantuan yang berjumlah 20.000 personil, juga datang pula bantuan dari Syiria sebanyak 8.000 personil yang dipimpin oleh Hasyim bin Atbah bin Abi Waqqas. Mereka ini dulunya adalah pasukan dibawah komandan Khalid bin Walid yang meninggalkan Irak dan bergabung ke Syiria untuk memperkuat pasukan Islam melawan Byzantium.

Di Qadisia pasukan Islam yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqas bertemu dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Rustam. Dalam pertempuran itu Rustam mati terbunuh dan pasukannya menderita kekalahan. Kemenangan di Qadisia melicinkan jalan bagi pasukan Islam untuk membebaskan wilayah Persia dan sampai pada akhirnya pasukan Islam dapat menguasai sepenuhnya wilayah Syiria, Irak, dan Iran.

Pembebasan selanjutnya adalah Mesir yang merupakan lumbun pangan Byzantium. Amr bin Ash mengusulkan kepada khalifah Umar agar memperbolehkan meneruskan pembebasan ke Mesir dan atas izin khalifah Amr bin Ash meneruskan perjalanan ekspedisi militer ke Mesir. Dari Madinah, khalifah Umar mengirim bantuan pasukan yang dipimpin oleh Zaburi, Muqdad dan Abu Ubaidah. Pasukan Amr berhasil melumpuhkan benteng Babilonia, kemudian Iskandaria. Muqauqis, wali Byzantium untuk wilayah Mesir terpaksa di pecat oleh Heraklius kerena ia melakukan perdamaian dengan pasukan Amr.

Dalam penaklukan di Mesir pasukan Amr bin Ash bukan hanya di topang oleh kekuatan umat Islam tetapi pasusukan ini juga mendapat dukungan dari suku Qibthi yakni penduduk asli Mesir yang beragama kristen aliran Monofisit. Mereka membantu memperbaiki jalan dan jembatan yang dilewati pasukan Amr bin Ash selain itu mereka juga memberi makan bagi pasukan ini. Sambutan positif ini disebabkan karena mereka ingin melepaskan diri dari pasukan Byzantium yang tidak memberikan kebebasan beragama kepada rakyat ditambah lagi ketidak sukaan mereka karena dibebani pajak yang berat oleh penguasa.

Pada masa pemerintahan khalifah Usman, pembebasan kearah barat berhenti kendati pun ekpansi kedaerah Masih terus berjalan bahkan berlanjut kedaerah afrika utara. Selebihnya khalifah Umar disibukkan dengan konplik internal yang menyebabkan terbunuhnya Usman.

Setelah khalifah Usman wafat terjadi kekacauan mengenai siapa yang nggantikannya. Ali mendapat dungungan yang kuat dari para umat islam sehingga beliaulah yang kemudian menjadi khalifah selanjutnya. Pada masa pemerintahan khalifah Ali beliau disibukkan dengan konplik internal yang berkepanjangan. Banyak kalangan yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah seperti dari pihak Aisyah yang akhirnya diselesaikan dengan pecahnya perang unta. Selain itu, khalifah Ali juga mendapat perlawanan dari keluarga khalifah sebelumnya yang menuntut agar kasus pembunuhan Usman diselesaikan tetapi khalifah Ali tidak memproritaskan persoalan tersebut sehingga pecahlah perang Siffin dimana khalifah Ali berhadapan dengan Muawiyah yang mengatas namakan persoalan pembunuhan Usman sebagai hal untuk memerangi Ali walaupun sesungguhnya motif utama Muawiyah adalah mengambil alih kekuasaan.

Keberhasilan pembebasan wilayah Persia, Syria, Palestina, dan Mesir masuk menjadi wilayah kekuasaan negara Madinah dengan menggunakan waktu hanya kurang lebuh sepuluh tahun lamanya dari masa kematian Nabi Muhammad merupakan prestasi yang luar biasa yang dicapai oleh pasukan negara Islam. Ada beberapa faktor yang menyokong keberhasilan tersebut, diantaranya:

1. Suku-suku arab Badwiy yang hidup dipadang pasir memiliki bakat dan kemampuan berperang yang tangguh, bahkan mereka terampil menggunakan perang dan kendaraan peperangan.

2. Mereka gemar berperang apalagi diluar Jaziraj Arab karena mereka dapat memperoleh harta rampasan perang.

3. Penyebaran Islam tidak dipaksakan jika mereka mereka menolak masuk Islam maka mereka diharuskan membayar jizyah.

4. Selain itu, dua negara adikuasa pada masa itu telah melemah yakni Romawi dan Persia kerena perang yang berkepanjangan antara keduanya serta konflik internal kedua kerajaan tersebut dan disisi lain kekuatan Islam di Madinah semakin kuat sehingga memudahkan tentara tentara Islam melakukan penaklukan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS