Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Wahid Hasyim



Biografi, Pemikiran dan Karya K. H. Abdul Wahid Hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah pahlawan nasional, salah seorang anggota BPUPKI dan perumus Pancasila dan merupakan Menteri Agama tiga kabinet (Kabinet Hatta, Kabinet Natsir, dan Kabinet Sukiman). Mantan Ketua Tanfidiyyah PBNU (1948) dan Pemimpin dan pengasuh kedua Pesantren Tebuireng (1947 – 1950) ini, merupakan reformis dunia pendidikan pesantren dan pendidikan Islam Indonesia. Ia dikenal juga sebagai pendiri IAIN (sekarang UIN).
Kelahiran Wahid Hasyim
KH. Abdul Wahid Hasyim adalah putra dari pasangan KH. M. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah binti Kiai Ilyas (Madiun) yang di lahirkan pada Jum’at legi, 5 Rabi’ul Awal 1333 H./1 Juni 1914 M. Ayahandanya semula memberinya nama Muhammad Asy’ari, diambil dari nama kakeknya. Namun, namanya kemudian diganti menjadi Abdul Wahid, diambil dari nama datuknya. Dia anak kelima dan anak laki-laki pertama dari 10 bersaudara.
Menuntut Ilmu
Sejak kecil Abdul Wahid sudah masuk Madrasah Tebuireng dan sudah lulus pada usia yang sangat belia, 12 tahun. Selama bersekolah, ia giat mempelajari ilmu-ilmu kesustraan dan budaya Arab secara outodidak. Dia juga mempunyai hobi membaca yang sangat kuat. Dalam sehari, dia membaca minimal lima jam. Dia juga hafal banyak syair Arab yang kemudian disusun menjadi sebuah buku.
Ketika berusia 13 tahun, Abdul Wahid mulai melakukan pengembaraan mencari ilmu. Awalnya ia belajar di Pondok Siwalan, Panji, Sidoarjo. Di sana ia mondok mulai awal Ramadhan hingga tanggal 25 Ramadhan (hanya 25 hari). Setelah itu pindah ke Pesantren Lirboyo, Kediri, sebuah pesantren yang didirikan oleh KH. Abdul Karim, teman dan sekaligus murid ayahnya. Antara umur 13 dan 15 tahun, pemuda Wahid menjadi Santri Kelana, pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Tahun 1929 dia kembali ke pesantren Tebuireng.
Ketika kembali ke Tebuireng, umurnya baru mencapai 15 tahun dan baru mengenal huruf latin. Dengan mengenal huruf latin, semangat belajarnya semakin bertambah. Ia belajar ilmu bumi, bahasa asing, matematika, dan lain-lain. Dia juga berlangganan koran dan majalah, baik yang berbahasa Indonesia maupun Arab.
Pemuda Abdul Wahid mulai belajar Bahasa Belanda ketika berlangganan majalah tiga bahasa, ”Sumber Pengetahuan” Bandung. Tetapi dia hanya mengambil dua bahasa saja, yaitu Bahasa Arab dan Belanda. Setelah itu dia mulai belajar Bahasa Inggris.
Pada tahun 1932, ketika umurnya baru 18 tahun, Abdul Wahid pergi ke tanah suci Mekkah bersama sepupunya, Muhammad Ilyas. Selain menjalankan ibadah haji, mereka berdua juga memperdalam ilmu pengetahuan seperti nahwu, shorof, fiqh, tafsir, dan hadis. Abdul Wahid menetap di tanah suci selama 2 tahun.
Memimpin Pondok Pesantren Tebuireng
Sepulang dari tanah suci, KH. Abdul Wahid (biasa dipanggil KH. Wahid Hasyim) bukan hanya membantu ayahnya mengajar di pesantren, tapi juga terjun ke tengah-tengah masyarakat. Ketika usianya menginjak 20-an tahun, Kiai Wahid mulai membantu ayahnya menyusun kurikulum pesantren, menulis surat balasan dari para ulama atas nama ayahnya dalam Bahasa Arab, mewakili sang ayah dalam berbagai pertemuan dengan para tokoh.
Bahkan ketika ayahnya sakit, ia menggantikan membaca kitab Shahih Bukhari, yakni pengajian tahunan yang diikuti oleh para ulama dari berbagai penjuru tanah Jawa dan Madura.
Dengan bekal keilmuan yang cukup, pengalaman yang luas serta wawasan global yang dimilikinya, Kiai Wahid mulai melakukan terobosan-terobosan besar di Tebuireng. Awalnya dia mengusulkan untuk merubah sistem klasikal dengan sistem tutorial, serta memasukkan materi pelajaran umum ke pesantren.
Usul ini ditolak oleh ayahnya, karena khawatir akan menimbulkan masalah antar sesama pimpinan pesantren. Namun pada tahun 1935, usulan Kiai Wahid tentang pendirian Madrasah Nidzamiyah, dimana 70% kurikulumnya berisi materi pelajaran umum, diterima oleh sang ayah.
Madrasah Nidzamiyah bertempat di serambi masjid Tebuireng. Siswa pertamanya berjumlah 29 orang, termasuk adiknya sendiri, Abdul Karim Hasyim. Dalam bidang bahasa, selain materi pelajaran Bahasa Arab, di Madrasah Nidzamiyah juga diberi pelajaran Bahasa Inggris dan Belanda.
Untuk melengkapi khazanah keilmuan santri, pada tahun 1936, Kiai Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam yang kemudian diikuti dengan pendirian taman bacaan (perpustakaan) yang menyediakan lebih dari seribu judul buku.
Perpustakaan Tebuireng juga berlangganan majalah seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Langkah ini merupakan terobosan besar yang saat itu belum pernah dilakukan pesantren manapun di Indonesia.
Pada tahun 1947, ketika sang ayah meningal dunia, Kiai Wahid terpilih secara aklamasi sebagai pengasuh Tebuireng. Pilihan ini berdasarkan kesepakatan musyawarah keluarga Bani Hasyim dan Ulama NU Kabupaten Jombang. Terpilihnya Kiai Wahid sebenarnya sekadar ”formalisasi”, karena kenyataannya beliau sudah lama ikut membantu sang ayah mengelola Tebuireng.
Pada tahun 1950, Kiai Wahid diangkat menjadi Menteri Agama dan pindah ke Jakarta. Keluarga Kiai Wahid tinggal di Jl. Jawa (kini Jl. HOS Cokroaminoto) No. 112, dan selanjutnya pada tahun 1952 pindah ke Taman Matraman Barat no. 8, di dekat Masjid Jami’ Matraman.
Pernikahan KH. Abdul Wahid Hasyim
Pada hari Jumat, 10 Syawal 1356 H./1936 M., Kiai Wahid menikah dengan Munawaroh (lebih dikenal dengan nama Sholichah), putri KH. Bisyri Sansuri (Denanyar Jombang). Ada peristiwa menarik dalam prosesi pernikahan ini. Mempelai lelaki hanya berangkat seorang diri ke Denanyar. Kiai Wahid datang hanya memakai baju lengan pendek dan bersarung. Tidak ada yang mengiringinya. Bukan tidak ada yang mau mengantar, akan tetapi Kiai Wahid sendiri yang meninggalkan para pengiringnya di belakang.
Dari pernikahan itu, pasangan Wahid-Sholichah dikaruniai enam orang putra-putri, yaitu Abdurrahman, Aisyah, Salahuddin, Umar, Lily Khodijah, dan Muhammad Hasyim.
Masuk NU
Di tengah-tengah kesibukannya mengelola Tebuireng, Kiai Wahid aktif menjadi pengurus NU (1938). Karier di NU dimulai dari bawah. Mula-mula menjadi Sekertaris NU Ranting Cukir, kemudian tahun 1938 terpilih sebagai Ketua Cabang NU Kabupaten Jombang.
Lalu tahun 1940 masuk kepengurusan PBNU bagian ma’arif (pendidikan). Di tubuh Ma’arif NU, Kiai Wahid mengembangkan dan melakukan reorganisasi terhadap madrasah-madrasah NU di seluruh Indonesia. Kiai Wahid juga giat mengembangkan tradisi tulis-menulis di kalangan NU, dengan menerbitkan Majalah Suluh Nahdlatul Ulama. Beliau juga aktif menulis di Suara NU dan Berita NU. Tahun 1946 Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Tanfidiyyah PBNU menggantikan Kiai Achmad Shiddiq yang meninggal dunia.
Mendirikan Masyumi
Pada bulan November 1947, Wahid Hasyim bersama M. Natsir menjadi pelopor pelaksanaan Kongres Umat Islam Indonesia yang diselenggarakan di Jogjakarta. Dalam kongres itu diputuskan pendirian Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), sebagai satu-satunya partai politik Islam di Indonesia. Ketua umumnya adalah ayahnya sendiri, Kiai Hasyim Asy’ari. Namun Kiai Hasyim melimpahkan semua tugasnya kepada Wahid Hasyim.
Dia dalam Masyumi tergabung tokoh-tokoh Islam nasional, seperti KH. Wahab Hasbullah, KH. Bagus Hadikusumo, KH. Abdul Halim, KH. Ahmad Sanusi, KH. Zainul Arifin, Mohammad Roem, dr. Sukiman, H. Agus Salim, Prawoto Mangkusasmito, Anwar Cokroaminoto, Mohammad Natsir, dan lain-lain.
Sejak awal tahun 1950-an, NU keluar dari Masyumi dan mendirikan partai sendiri. Kiai Wahid terpilih sebagai Ketua Umum Partai NU. Keputusan ini diambil dalam Kongres ke-19 NU di Palembang (26-April-1 Mei 1952). Secara pribadi, Kiai Wahid tidak setuju NU keluar dari Masyumi. Akan tetapi karena sudah menjadi keputusan bersama, maka Kiai Wahid menghormatinya. Hubungan Kiai Wahid dengan tokoh-tokoh Masyumi tetap terjalin baik.
Pahlawan Nasional
Pada tahun 1939, NU masuk menjadi anggota Majelis Islam A'la Indonesia (MIAI), sebuah federasi partai dan ormas Islam di Indonesia. Setelah masuknya NU, dilakukan reorganisasi dan saat itulah Kiai Wahid terpilih menjadi ketua MIAI, dalam Kongres tanggal 14-15 September 1940 di Surabaya.
Di bawah kepemimpinan Kiai Wahid, MIAI melakukan tuntutan kepada pemerintah Kolonial Belanda untuk mencabut status Guru Ordonantie tahun 1925 yang sangat membatasi aktivitas guru-guru agama. Bersama GAPI (Gabungan Partai Politik Indonesia) dan PVPN (Asosiasi Pegawai Pemerintah), MIAI juga membentuk Kongres Rakyat Indonesia sebagai komite Nsional yang menuntut Indonesia berparlemen.
Menjelang pecahnya Perang Dunia ke-II, pemerintah Belanda mewajibkan donor darah serta berencana membentuk milisi sipil Indonesia sebagai persiapan menghadapi Perang Dunia. Sebagai ketua MIAI, Wahid Hasyim menolak keputusan itu.
Ketika pemerintah Jepang membentuk Chuuo Sangi In, semacam DPR ala Jepang, Kiai Wahid dipercaya menjadi anggotanya bersama tokoh-tokoh pergerakan nasional lainnya, seperti Ir. Soekarno, Dr. Mohammad Hatta, Mr. Sartono, M. Yamin, Ki Hajat Dewantara, Iskandar Dinata, Dr. Soepomo, dan lain-lain. Melalui jabatan ini, Kiai Wahid berhasil meyakinkan Jepang untuk membentuk sebuah Badan Jawatan Agama guna menghimpun para ulama.
Pada tahun 1942, Pemerintah Jepang menangkap Hadratusy Sayeikh Kiai Hasyim Asy'ari dan menahannya di Surabaya. Wahid Hasyim berupaya membebaskannya dengan melakukan lobi-lobi politik. Hasilnya, pada bulan Agustus 1944, Kiai Hasyim Asy'ari dibebaskan. Sebagai kompensasinya, Pemerintah Jepang menawarinya menjadi ketua Shumubucho, Kepala Jawatan Agama Pusat. Kiai Hasyim menerima tawaran itu, tetapi karena alasan usia dan tidak ingin meninggalkan Tebuireng, maka tugasnya dilimpahkan kepada Kiai Wahid.
Bersama para pemimpin pergerakan nasional (seperti Soekarno dan Hatta), Wahid Hasyim memanfaatkan jabatannya untuk persiapan kemerdekaan RI. Dia membentuk Kementerian Agama, lalu membujuk Jepang untuk memberikan latihan militer khusus kepada para santri, serta mendirikan barisan pertahanan rakyat secara mandiri. Inilah cikal-bakal terbentuknya laskar Hizbullah dan Sabilillah yang, bersama PETA, menjadi embrio lahirnya Tentara Nasional Indonesia (TNI).
Pada tanggal 29 April 1945, pemerintah Jepang membentuk Dokuritsu Zyunbi Tyooisakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Wahid Hasyim menjadi salah satu anggotanya. Dia merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Jakarta, sebuah piagam yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara. Dia berhasil menjembatani perdebatan sengit antara kubu nasionalis yang menginginkan bentuk Negara Kesatuan, dan kubu Islam yang menginginkan bentuk negara berdasarkan syariat Islam. Saat itu ia juga menjadi penasihat Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Sukarno (September 1945), Kiai Wahid ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam Kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP dibentuk, Wahid Hasyim menjadi salah seorang anggotanya mewakili Masyumi dan meningkat menjadi anggota BPKNIP tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan RI dan berdirinya RIS, dalam Kabinet Hatta tahun 1950 dia diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepadanya selama tiga kali kabinet, yakni Kabinet Hatta, Natsir, dan Kabinet Sukiman.
Selama menjabat sebagai Menteri Agama RI, Kiai Wahid mengeluarkan tiga keputusan yang sangat mepengaruhi sistem pendidikan Indonesia di masa kini, yaitu :
1.       Mengeluarkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan sekolah umum, baik negeri maupun swasta.
2.       Mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda-Aceh, Bandung, Bukittinggi, dan Yogyakarta.
3.       Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjungpinang, Banda-Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, Bandung, Pamekasan, dan Salatiga.
Jasa lainnya ialah pendirian Sekolah Tinggi Islam di Jakarta (tahun 1944), yang pengasuhannya ditangani oleh KH. Kahar Muzakkir. Lalu pada tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI). Kiai Wahid juga memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan masjid Istiqlal sebagai masjid negara.
Musibah di Cimindi
Hari itu, Sabtu 18 April 1953, Kiai Wahid bermaksud pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Kiai Wahid ditemani tiga orang, yakni sopirnya dari harian Pemandangan, rekannya Argo Sutjipto, dan putera sulungnya Abdurrahman Ad-Dakhil (Gus Dur). Kiai Wahid duduk di jok belakang bersama Argo Sutjipto. Daerah di sekitar Cimahi waktu itu diguyur hujan lebat sehingga jalan menjadi licin. Lalu lintas cukup ramai.
Sekitar pukul 13.00, ketika memasuki Cimindi, sebuah daerah antara Cimahi-Bandung, mobil yang ditumpangi Kiai Wahid selip dan sopirnya tidak bisa menguasai kendaraan. Di belakangnya banyak iringan-iringan mobil. Sedangkan dari arah depan, sebuah truk yang melaju kencang terpaksa berhenti begitu melihat ada mobil zig-zag. Karena mobil Chevrolet itu melaju cukup kencang, bagian belakangnya membentur badan truk dengan kerasnya. Ketika terjadi benturan, Kiai Wahid dan Argo Sutjipto terlempar ke bawah truk yang sudah berhenti itu. Keduanya luka parah. Kiai Wahid terluka bagian kening, mata, pipi, dan bagian lehernya. Sedangkan sang sopir dan Gus Dur tidak cedera sedikit pun. Mobilnya hanya rusak bagian belakang dan masih bisa berjalan seperti semula.
Kiai Hasyim dan Argo Sutjipto kemudian dibawa ke Rumah Sakit Boromeus Bandung. Sejak mengalami kecelakaan, keduanya tidak sadarkan diri. Keesokan harinya, Ahad, 19 April 1953 pukul 10.30, KH. Abdul Wahid Hasyim dipanggil ke hadirat Allah Swt. dalam usia 39 tahun. Beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 18.00 Argo Sutjipto menyusul menghadap Sang Khalik. Inna liLlahi wa Inna ilayhi Raji’un.
Jenazah Kiai Wahid kemudian dibawa ke Jakarta, lalu diterbangkan ke Surabaya, dan selanjutnya dibawa ke Jombang untuk disemayamkan di pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng. Atas jasa-jasanya beliau juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS



Konsep dan Realitas Politik Perluasan Wilayah Madinah

Sebelum Rasulullah meninggal, beliau tidak menunjuk penggantinya sebagai pemimpin umat Islam sehingga setelah beliau wafat sempat terjadi kekosongan kekuasaan. Para sahabat merasa bahwa mereka sangat membutuhkan pemilihan seorang khalifah yang akan mengatur masalah-masalah dan urusan-urusan mereka di Madinah, sebab jika tidak maka Madinah akan berada dalam ancaman.

Dalam pemilihan khalifah terjadi perdebatan yang cukup panjang antara orang-orang Anshar dengan orang-orang Muhajirin, dan pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar menjadi khalifah pertama yang dibaiat oleh Umar dan disusul kemudian oleh semua orang yang hadir di Saqifah. Pada hari berikutnya semua penduduk membaiatnya secara umum.

Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafa At-Tamimi. Di zaman pra Islam beliau bernama Abdul Ka’bah, kemudian diganti oleh nabi menjadi Abdullah. Beliau termasuk salah seorang sahabat yang utama, gelar Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan Nabi dalam berbagai peristiwa terutama Isra’ dan Mi’raj.

Pada awal pemerintahannya Abu Bakar berhadapan dengan kelompok pemberontak yang dikenal dengan kaum murtad. Setelah Rasulullah wafat, seluruh Jazirah Arab murtad dari agama Islam kecuali Mekkah, Madinah, Thaif. Sebagian orang murtad ini kembali kepada kekufuran lamanya dan mengikuti orang-orang yang mengaku sebagai Nabi, sebagian yang lain hanya tidak mau membayar zakat.

Berkenaan dengan orang-orang yang mengklaim kenabian, beberapa pemikiran individu atau suku yang ambisius, bahwa mereka juga bisa menjadi pemimpin dengan jalan mengklaim kenabian karena dalam pandangan mereka Nabi Muhammad SAW. dapat menempati posisi sebagai pemimpin umat berkat kenabiannya olehnya itu mereka bercermin pada Rasulullah untuk mencapai ambisi kekuasaan yang mereka inginkan. Hal ini disebabkan karena pemahaman mereka terhadap Islam masih sangat dangkal wajar saja karena mereka tidak lama hidup berdampingan dengan Nabi.

Selain kelompok yang mengklaim kenabian, beberapa suku juga menjadi murtad. Tidak diragukan lagi bahwa situasinya memang mendukung untuk terjadinya kemurtadan, tetapi tidak jelas siapa yang benar-benar murtad dan siapa yang tidak menerima pemerintahan Madina yang semata-mata karena alasan politik. Golongan yang benar-benar mutad menganggap bahwa mereka tidak wajib lagi membayar zakat karena Nabi telah wafat sehingga perjanjian yang mengikat mereka juga telah batal dengan sendirinya. Sedangkan golongan yang tidak mau membayar zakat karena mereka tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah juga dianggap murtad oleh Abu Bakar.

pada masa pra-Islam terdapat dua kekuatan peradaban dunia yaitu peradaban Romawi Timur dan peradaban Persia, dua kerajaan ini kemudian menjadi tetangga Arab yakni tempat lahirnya Islam. Dua kekuatan besar tersebut merupakan dua super power dunia dan sekaligus merupakan adikuasa dunia pada masa itu. Tetapi kedua kerajaan ini sering sekali terlibat perang karena perebutan daerah kekuasaan. Akibatnya kedua kerajaan ini mulai melemah sekitar abad ke 7 M, selain itu konflik internal yang terjadi pada kedua kerajaan tersebut juga berpengaruh besar pada kemunduran kerajaan ini.

Khalifah Abu Bakar selain menyelesaikan masalah kemurtadan yang terjadi pada umat Islam, beliau juga berfokus pada keinginan Nabi yang belum sempat terealisasikan yakni mengirimkan ekspedisi ke Syam dibawah pimpinan Usamah, wilayah Syam saat itu berada dibawah dominasi kekaisaran Romawi Timur. Sebagian sahabat menentang keras rencana ini, tetapi khalifah tidak peduli. Nyatanya ekspedisi itu sukses dan membawa pengaruh positif bagi umat Islam, khususnya dalam membangkitkan kepercayaan diri mereka yang nyaris pudar. Dengan bangkinya kembali semangat umat Islam Abu Bakar pun menyusun rencana untuk melakukan penyerangan kebeberapa wilayah untuk menyebarkan Agama Islam dan sekaligus memperluas daerah kekuasaan Islam.

Saat kedua super power dunia ini mulai melemah, sedangkan saat itu kekuatan Islam semakin kuat. Ekpedisi militer pertama ke Persia pun dilaksanakan yang di pimpin oleh Khalid bin Walid. Serangan ini merupakan rangkaian dari tugas yang diterima Khalid bin Walid dalam menumpas kemurtadan. Tindakan itu dilakukan sebagai reaksi terhadap terjadinya kerjasama antara penguasa kerajaan Persia dengan kaum murtad. Sajjah, anak perempuan Harits Tamimi merupakan suku Arab Tamimi yang mengklaim dirinya sebagai nabi merupakan suruhan dari penguasa Persia. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Sajjah bergabung dengan Musailamah yang juga mengklaim dirinya sebagai nabi. Dalam Al-Futuh kita membaca bahwa ketika berjumpa dengan Musailamah, Sajjah berkata, “aku mendengar tentang karaktermu yang luar biasa dan aku memilihmu. Aku telah datang untuk menjadi istrimu sehingga kita berdua bisa menjadi nabi dan bersama-sama membuat dunia taat kepada kita dan menjadi pelayan kita”. Musailamah pun menjawab, “sebagai mahar perkawinanmu, aku bebaskan bangsamu dari shalat fajar dan petang”.

Ketika pasukan umat Islam berhadapan dengan pasukan Musailamah terjadilah perang berdarah dimana pasukan muslim kehilangan banyak tentaranya. Ibnu A’tsam menyebutkan jumlah umat Islam yang syahid sebanyak 1200 orang, 700 orang diantaranya adalah penghafal Al-Quran. Walau demikian umat Islam memenangkan peperangan ini dan Yamamah jatuh ketangan umat Islam.

Setelah menumpas kaum pembangkan di Yamamah, Khalid kembali mendapat tugas untuk memimpin ekspedisi ke Irak. Sebelum kedatangan Islam, di Irak berdiri kerajaan Lakhmiyah. Raja-raja Lakhmiyah kebanyakan menyembah berhala, tetapi karena terpengaruh oleh budaya Zoroastrian dari budaya timur dan kristen dari barat sehingga mereka lebih cenderung ke salah satunya. Yang pasti adalah bahwa Nu’man III dari dinasti ini adalah penganut kristen. Kristen Nestorian merupakan agama mayoritas di Irak dan Iran Barat. Raja-raja Sasania telah mendukung sekte ini kerena pemerintahan byzantium tengah memeranginya dan mempertahankan sekte kristen ini secara politis. Dinasti Lakhmiyah merupakn tangan kanan dinasti Sasaniah di Iran. Campur tangan Iran diwilayah ini amatlah besar sampai pada suatu tahap tertentu Khusrau Parviz memerintahkan Nu’man III, raja terakhir dinasti Lakhmiyah untuk tahta. Setelah itu pemerintahan Iran menggantinya dengan penganut kristen setempat yang bernama Iyas bin Qubaisyah untuk memerintah Hira. Tidak beberapa berselang, datanglah pasukan Islam menyerang kota terpenting di Irak yakni Hira dan berhasil menaklukkannya. Setelah penaklukan Hira Khalid bermaksud melanjutkan penyerangannya daerah-daerah sekitar Hira tetapi setelah pasukan Madinah berperang di Syria melawan pasukan Byzantium mengalami kesulitan, maka atas perintah khalifah Abu Bakar, Khalid bersama separuh pasukan lainnya tetap tinggal di Irak dan bergabung dengan pasukan yang dipimpin panglima Musasanna.

Belum sempat Irak dikuasai sepenuhnya oleh Islam, khalifah Abu Bakar meninggal yang kemudian digantikan oleh khalifah Umar bin Khatab. proses penunjukan Umar ini dilakukan langsung oleh Abu Bakar. Sebelum beliau meninggal, ia sempat berwasiat mengenai pengganti dirinya sebagai khalifah dan Umar lah yang dipilih oleh beliau.

Pada masa pemerintahan khalifah Umar, ia melanjutkan perluasan wilayah yang telah di mulai oleh khalifah Abu bakar. Saat perdana mentri kerajaan Sasania, Rustam memimpin pasukannya menghadapi pasukan Madinah. Menghadapi pasukan Rustam, khalifah Umar mengirim bantuan dibawah komando panglima Abu Ubaid al Saqafi untuk membantu pasukan Musasanna yang sudah ada di Irak. dalam pertempuran Furat pasukan madinah mengalami kekalahan. Akibat kekalahan itu, sebagian pasukan Islam enggan lagi berangkat ke Irak bahkan mereka lebih memilih pergi berperang melawan Byzantium di Syiria. Menghadapi hal itu, khalifah Umar memperkuat pasukan Islam dengan merekrut orang-orang murtad untuk bergabung dengan pasukan yang di pimpin oleh Musasanna. Selain itu, kepada pasukan yang di pimpin Jarir bin Abdullah al-Bajali yang bertempur dalam barisan pasukan Musasanna, khalifah menjanjikan imbalan harta Fa’I (rampasan tanah). Umar sendiri saat itu ingin berangkat berperang namun karena pertimbangan para sahabat beliau membatalkan niatnya. Panglima Sa’ad bin Abi Waqqas yang dipercaya untuk memimpin pasukan bantuan yang berjumlah 20.000 personil, juga datang pula bantuan dari Syiria sebanyak 8.000 personil yang dipimpin oleh Hasyim bin Atbah bin Abi Waqqas. Mereka ini dulunya adalah pasukan dibawah komandan Khalid bin Walid yang meninggalkan Irak dan bergabung ke Syiria untuk memperkuat pasukan Islam melawan Byzantium.

Di Qadisia pasukan Islam yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqas bertemu dengan pasukan Persia yang dipimpin oleh Rustam. Dalam pertempuran itu Rustam mati terbunuh dan pasukannya menderita kekalahan. Kemenangan di Qadisia melicinkan jalan bagi pasukan Islam untuk membebaskan wilayah Persia dan sampai pada akhirnya pasukan Islam dapat menguasai sepenuhnya wilayah Syiria, Irak, dan Iran.

Pembebasan selanjutnya adalah Mesir yang merupakan lumbun pangan Byzantium. Amr bin Ash mengusulkan kepada khalifah Umar agar memperbolehkan meneruskan pembebasan ke Mesir dan atas izin khalifah Amr bin Ash meneruskan perjalanan ekspedisi militer ke Mesir. Dari Madinah, khalifah Umar mengirim bantuan pasukan yang dipimpin oleh Zaburi, Muqdad dan Abu Ubaidah. Pasukan Amr berhasil melumpuhkan benteng Babilonia, kemudian Iskandaria. Muqauqis, wali Byzantium untuk wilayah Mesir terpaksa di pecat oleh Heraklius kerena ia melakukan perdamaian dengan pasukan Amr.

Dalam penaklukan di Mesir pasukan Amr bin Ash bukan hanya di topang oleh kekuatan umat Islam tetapi pasusukan ini juga mendapat dukungan dari suku Qibthi yakni penduduk asli Mesir yang beragama kristen aliran Monofisit. Mereka membantu memperbaiki jalan dan jembatan yang dilewati pasukan Amr bin Ash selain itu mereka juga memberi makan bagi pasukan ini. Sambutan positif ini disebabkan karena mereka ingin melepaskan diri dari pasukan Byzantium yang tidak memberikan kebebasan beragama kepada rakyat ditambah lagi ketidak sukaan mereka karena dibebani pajak yang berat oleh penguasa.

Pada masa pemerintahan khalifah Usman, pembebasan kearah barat berhenti kendati pun ekpansi kedaerah Masih terus berjalan bahkan berlanjut kedaerah afrika utara. Selebihnya khalifah Umar disibukkan dengan konplik internal yang menyebabkan terbunuhnya Usman.

Setelah khalifah Usman wafat terjadi kekacauan mengenai siapa yang nggantikannya. Ali mendapat dungungan yang kuat dari para umat islam sehingga beliaulah yang kemudian menjadi khalifah selanjutnya. Pada masa pemerintahan khalifah Ali beliau disibukkan dengan konplik internal yang berkepanjangan. Banyak kalangan yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah seperti dari pihak Aisyah yang akhirnya diselesaikan dengan pecahnya perang unta. Selain itu, khalifah Ali juga mendapat perlawanan dari keluarga khalifah sebelumnya yang menuntut agar kasus pembunuhan Usman diselesaikan tetapi khalifah Ali tidak memproritaskan persoalan tersebut sehingga pecahlah perang Siffin dimana khalifah Ali berhadapan dengan Muawiyah yang mengatas namakan persoalan pembunuhan Usman sebagai hal untuk memerangi Ali walaupun sesungguhnya motif utama Muawiyah adalah mengambil alih kekuasaan.

Keberhasilan pembebasan wilayah Persia, Syria, Palestina, dan Mesir masuk menjadi wilayah kekuasaan negara Madinah dengan menggunakan waktu hanya kurang lebuh sepuluh tahun lamanya dari masa kematian Nabi Muhammad merupakan prestasi yang luar biasa yang dicapai oleh pasukan negara Islam. Ada beberapa faktor yang menyokong keberhasilan tersebut, diantaranya:

1. Suku-suku arab Badwiy yang hidup dipadang pasir memiliki bakat dan kemampuan berperang yang tangguh, bahkan mereka terampil menggunakan perang dan kendaraan peperangan.

2. Mereka gemar berperang apalagi diluar Jaziraj Arab karena mereka dapat memperoleh harta rampasan perang.

3. Penyebaran Islam tidak dipaksakan jika mereka mereka menolak masuk Islam maka mereka diharuskan membayar jizyah.

4. Selain itu, dua negara adikuasa pada masa itu telah melemah yakni Romawi dan Persia kerena perang yang berkepanjangan antara keduanya serta konflik internal kedua kerajaan tersebut dan disisi lain kekuatan Islam di Madinah semakin kuat sehingga memudahkan tentara tentara Islam melakukan penaklukan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS